Sidoarjo, ajs.com – Antusiasme hari pertama masuk sekolah di semester genap tahun ajaran 2024/2025 berubah menjadi keprihatinan bagi ratusan siswa SMP Negeri 2 Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.
Alih-alih disambut ruang kelas yang bersih, para siswa justru harus berhadapan dengan genangan air yang mengepung area sekolah pada Senin (5/1/2026).
Banjir dengan ketinggian 20 hingga 30 sentimeter terpantau masih merendam halaman utama sekolah. Bahkan, air setinggi 10 hingga 20 sentimeter merangsek masuk ke dalam sejumlah ruang kelas, yang mengakibatkan aktivitas belajar mengajar tidak dapat berjalan normal.
Kepala SMP Negeri 2 Tanggulangin, Supriyanto, mengungkapkan bahwa fenomena banjir ini bukan hal baru.
Genangan air disebutnya telah terjadi sejak akhir tahun lalu dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan surut total.
“Kondisinya sangat fluktuatif. Saat intensitas hujan tinggi, air dipastikan naik. Sebaliknya, saat cuaca cerah air sedikit turun, namun tidak pernah benar-benar kering,” ujar Supriyanto.
Keterbatasan ruang kelas yang layak huni memaksa pihak sekolah mengambil langkah darurat guna menjamin hak pendidikan siswa tetap terpenuhi. Skema pembelajaran campuran (blended learning) pun diterapkan sebagai solusi jangka pendek.
Pada hari perdana ini, kebijakan sekolah terpaksa harus menetapkan Kelas VII mengikuti pembelajaran tatap muka (luring) dengan memanfaatkan ruang yang kering.
Untuk Kelas VIII dan IX harus melaksanakan pembelajaran jarak jauh (daring) dari rumah masing-masing.
Untuk akses masuk sekolah juga terpaksa dialihkan melalui pintu belakang demi keamanan dan kenyamanan siswa, mengingat akses utama terendam cukup dalam.
Menurut Supriyanto, prioritas pembelajaran luring ke depannya akan diberikan kepada siswa kelas IX yang segera menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Mulai pertengahan pekan, kami akan mengatur jadwal bergilir antara daring dan luring untuk memastikan siswa kelas IX mendapatkan pendampingan maksimal,” ujarnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan 645 siswa SMPN 2 Tanggulangin. Selain mengganggu efektivitas belajar dan interaksi sosial, air yang menggenang dalam waktu lama (stagnan) mulai menimbulkan aroma tidak sedap dan dikhawatirkan menjadi sarang penyakit.
Pihak sekolah dan orang tua murid kini berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah terkait penanganan drainase di kawasan tersebut, agar siklus banjir tahunan ini tidak terus mengorbankan masa depan pendidikan siswa di Tanggulangin. (red)






